Tinjauan Sosiologis Pendidikan

Tinjauan sosiologis Pendidikan

  1. A.     Pendidikan dan Masyarakat

Banyak para ahil telah memberikan pengertian tentang masyarakat. Smith, Stanley dan Shores mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentatang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. (Smith, Stanley, Shores, 1950, p. 5).

Secara  singkat  pendidikan   merupakan    produk   dari  masya-rakat,  karena  apabila  kita  sadari  arti  pendidikan  sebagai  proses transmisi   pengetahuan,   sikap,  kepercayaan,    keterampilan   dan aspek-aspek  kelakuan  lainnya kepada  generasi  muda maka  seluruh  upaya  tersebut  sudah  dilakukan  sepenuhnya  oleh  kekuatan- kekuatan  masyarakat.  Hampir  segala  sesuatu  yang  kita  pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya. Wajar pula apabila  segala  sesuatu  yang  kita  ketahui  adalah  hasil  hubungan timbal balik yang ternyata sudah  sedemikian  rupa  dibentuk  oleh masyarakat kita.

Bagi  masyarakat  sendiri hakikat  pendidikan  sangat  bermanfaat bagi  kelangsungan     dan  proses  kemajuan    hidupnya.   Agar masyarakat    itu dapat  melanjutkan    eksistensinya,  maka   kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki  oleh  setiap  anggota. Setiap  masyarakat  berupaya  meneruskan   kebudayaannya     dengan   proses  adaptasi  tertentu  sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui pendidikan,   secara  khusus   melalui  interaksi sosial.  Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.

Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan ksternal di luar dirinya, yakni keluarga.

Selain budi atau akhlak, manusia masih memerlukan sejumlah hajat untuk dapat hidup layak di dunia ini. Manusia memerlukan makanan dan minuman, kesehatan dan kebersihan, pakaian dan keindahan, hunian dan pemukiman, transportasi dan komunikasi, serta budi bahasa dan pendidikan. Dari waktu  ke waktu,  hajat hidup ini memperoleh standar baru sesuai dengan perkembangan zaman. Acuan dari standar ini selalu berpatokan kepada martabat manusia, sehingga dalam batas kemungkinan, manusia terus berusaha untuk mempertinggi martabat kemanusiaan di bumi ini.

Tanpa mengurangi perhatian kita kepada kepentingan berbagai hajat lainnya di dalam hidup  ini, kita mencoba untuk melihat satu saja di antara berbagai hajat hidup itu. Kita melihat hajat hidup yang berbentuk pendidikan. Kita menelaah bagaimana pendidikan ini berkaitan dengan perkembangan kehidupan di dalam masyarakat. Dan kita mencatat pula sebagian hal yang mempengaruhi pendidikan beserta standar di dalam pendidikan itu.

Standar baru di dalam pendidikan selalu menuntut adanya perubahan di dalam pendidikan.  Perubahan ini dapat saja muncul dalam berbagai wujud. Ada kalanya, perubahan itu muncul dalam bentuk pembaruan sistem. Ada kalanya pula, perubahan itu tiba dalam bentuk bahan pelajaran baru. Perpaduan di antara  berbagai perubahan di dalam pendidikan membawa pendidikan kita ke dalam kegiatan yang selalu dinamik. Dan bersama dinamika itu, pendidikan  kita berusaha untuk berkembang bersama dengan semua  hajat yang ada di dalam hidup manusia.

Dalam batas tertentu, standar baru pada pendidikan berkaitan pula dengan keadaan hidup di dalam    masyarakat. Pada waktunya,  pendidikan menyesuaikan  diri  kepada   keadaan masyarakatnya. Dan pada saatnya pula, pendidikan menjadi perintis bagia perubahan di dalam masyarakat. Kaitan di antara pendidikan dan masyarakat ini bersumber pada hakikat hidup.Dan hakikat hidup itu selalu menuntut agar kaitan demikian dapat membuat seluruh hajat hidup manusia menjadi satu sistem yang utuh.

Selain itu, dimensi   sejarah juga  berbicara  serupa.  Ratusan tahun  silam  pendidikan  berjalan  beriringan  dengan  struktur  dan kebutuhan   sosial masyarakat    setempat.  Bagi  masyarakat   seder hana yang belum mengenal tulisan  maka para pemuda memper oleh tranformasi pengetahuan lewat media komunikasi lisan yang berbentuk dongeng, cerita-cerita dari orang tua mereka. Selain itu, pada   siang  hari pemuda-pemuda       ini harus   selalu  sigap  dan tanggap   mempelajari,   mencermati   dan   belajar mengaplikasikan teknik-teknik mencari nafkah yang dikembangkan oleh para orang tua  baik  itu  menangkap  ikan,  memanah,  beternak,  berburu  dan sebagainya.

  1. B.     Pendidikan dan Pembangunan Masyarakat

Pendidikan dan pembangunan masyarakat sangatlah dekat kaitannya, disadari bahwa Pembangunan/pengembangan masyarakat, khususnya masyarakat desa merupakan suatu fondasi penting yang dapat memperkuat dan mendorong makin meningkatnya pembangunan bangsa, oleh karena itu pelibatan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nonformal dapat menjadi suatu yang memberi makna besar bagi kelancaran pembangunan. Pengembangan masyarakat, terutama di daerah pedesaan, bila dibandingkan dengan daerah perkotaan jelas menunjukan suatu ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih keras untuk mencoba lebih seimbang diantara keduanya. pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat tersebut menunjukkan suatu upaya yang disengaja dan diorganisasi untuk memajukan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya yang dilakukan di dalam satu kesatuan Wilayah. Kesatuan wilayah itu bisa terdiri dari daerah pedesaan atau daerah perkotaan. Pengembangan masyarakat yang bertumpu pada kebutuhan dan tujuan pembangunan nasional itu memiliki dua jenis tujuan. Tujuan-tujuan itu dapat digolongkan kepada tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dengan sendirinya mengarah dan bermuara pada tujuan nasional, sedangkan tujuan khusus yaitu perubahan-perubahan yang dapat diukur yang terjadi pada masyarakat. Perubahan itu menyangkut segi kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri setelah melalui program pengembangan masyarakat. Perubahan itu berhubungan dengan peningkatan taraf hidup warga masyarakat dan keterlibatannya dalam pembangunan. Dengan kata lain tujuan khusus itu menegaskan adanya perubahan yang dicapai setelah dilakukan kegiatan bersama, yaitu berupa perubahan tingkah laku warga masyarakat. Perubahan tingkah laku ini pada dasarnya merupakan hasil edukasi dalam makna yang wajar dan luas, yaitu adanya perubahan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan aspirasi warga masyarakat serta adanya penerapan tingkah laku itu untuk peningkatan kehidupan mereka dan untuk peningkatan partisipasi dalam pembangunan masyarakat.

Prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikemukakan di sini ialah keterpaduan, berkelanjutan, keserasian, kemampuan sendiri (swadaya dan gotong royong), dan kaderisasi. Prinsip keterpaduan memberi tekanan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat didasarkan pada program-program yang disusun oleh masyarakat dengan bimbingan dari lembaga-lembaga yang mempunyai hubungan tugas dalam pembangunan masyarakat. Prinsip berkelanjutan memberi arti bahwa kegiatan pembangunan masyarakat itu tidak dilakukan sekali tuntas tetapi kegiatannya terus menerus menuju ke arah yang lebih sempurna. Prinsip keserasian diterapkan pada program-program pembangunan masyarakat yang memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan Pemerintah. Prinsip kemampuan sendiri berarti dalam melaksanakan kegiatan dasar yang menjadi acuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri. Prinsip-prinsip di atas memperjelas makna bahwa program-program pendidikan nonformal berbasis masyarakat harus dapat mendorong dan menumbuhkan semangat pengembangan masyarakat, termasuk keterampilan apa yang harus dijadikan substansi pembelajaran dalam pendidikan nonformal. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pendidikan nonformal sebagai bagian dari kegiatan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang serius agar hasil dari pendidikan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas hidup mereka Dalam hal ini perlu disadiri bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar apabila di masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah tumbuh kesadaran dan semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta ketrampilan tertentu yang dapat menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan nonformal diharapkan dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi untuk membangun masyarakat desanya sendiri sabagai suatu kontribusi bagi pembangunan bangsa pada umumnya.

  1. C.      Pendidikan dan Kesadaran Kebangsaan Indonesia

Sejak awal kedatangan imperialisme Barat, sebagian besar bangsa Indonesia memang belum memiliki dasar pendidikan yang cukup. Pengetahuan yang mereka miliki pada umumnya sangat tradisional dan diperoleh secara turun – temurun. Bangsa – bangsa Barat pun berusaha menguasai Indoensia secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Silih berganti seperti Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda menguasai Indoensia.

Pada masa pendudukannya di Indonesia Belanda menerapkan Pax Nederlandica, yaitu Belanda berusaha menyatukan wilayah Hindia Belanda dalam satu kekuasaan yang terpusat. Hal inilah yang menimbulkan kesadaran bangsa Indonesia dalam mewujudkan pergerakan nasional.

Sejalan dengan berkembangnya paham imperialisme modern di Eropa yang lebih menitikberatkan pada eksploitasi ekonomi, maka dikenallah Politik pintu terbuka, yaitu pemerinta Belanda membuka kesempatan yang seluas – luasnya kepada pemilik modal asing atau perusahaan – perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu politik tersebut banyak mendapat kritkan dari berbagai tikoh, antara lain Baron van Hauvel dan Van Deventer.

Sejak dilaksanakannya Politik Etis, pemerintah Belanda kemudian banyak mendirikan sekolah dan berjejang mulai dari sekolah yang setingkat SD sampai pendidikan tinggi. Kemudian yang dimaksud dengan pendidikan kolonial adalah pendidikan yang diorganisasi oleh pemerintah kolonial.

Penyelenggaraan pendidikan itu seiring dengan kepentingan pemerintah itu sendiri, berupa kebutuhan akan pegawai terdidik dan terampil, baik di kantor pemerintah atau perkebunan. Karena kepentingan tersebut, pada mulanya pendidikan tidak merata untuk semua orang.

Pelaksanaan pendidikan bagi bangsa Indonesia yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda mempunyai ciri – ciri sebagai berikut.

a. Penerapan prinsip gradualisme (berangsur – angsur, lambat dan bertahap dalam penyediaan pendidikan bagi anak – anak Indonesia.

b. Dijalakannya sistem dualisme dalam pendidikan yang membedakan pendidikan bagi anak Belanda dan pendidikan bagi bumi putera.

c. Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan terbatas, yaitu untuk menghasilkan pegawai administrasi.

d. Tidak adanya perencanaan pendidikan yang sitematis untuk pendidikan bagi anak .

Berikut ini adalah sekolah – sekolah yang berdiri pada masa kolonial Belanda :

a. Pendidikan Setaraf SD, meliputi sekolah – sekolah :

1. Eerste Klasse School (Sekolah Kelas Satu0, yang diperuntukkan bagi anak – anak bangsawan Indonesia, dengan lama pendidikan 4 – 5 tahun.

2. Twede Klasse School (Sekolah kelas satu), yang diperuntukkan bagi anak – anak masyarakat biasa dengan lama pendidikan 3 tahun.

3. Volkschool (Sekolah Desa ), lama pendidikan 3 tahun.

4. Vervolgschool (Sekolah lanjutan), sebagai lanjutan dari Volkschool, lama pendidikan 2 tahun.

5. Schakel School (Sekolah Schakel), yaitu sekolah sambungan yang dapat dilanjutkan ke MULO, lama pendidikan 5 tahun.

6. europese Lagere School /ELS (Sekolah Belanda), Lama pendidikan 7tahun

7. Hollands Inlandse School/HIS (Sekolah Hindia Belanda), lama pendidikan 7 tahun.

8. Hollands Chinese School/HCS (Sekolah cina), lama pendidikan 7 tahun.

b. Pendidikan Setaraf SMP/SMA, yaitu :

1. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/MULO (Pendidikan Rendah Lebih Ekstensif) lama pendidikan 3 – 4 tahun

2. Algemene Middelbare School /AMS (Sekolah Menengah Umum), sebagai lanjutan dari MULO, lama pendidikan 3 tahun

3. Hogere Burgerreschool/HBS (Sekolah Menengah), lama pendidikan 5 tahun

4. Kweek School/KS (Sekolah Guru), lama pendidikan 6 tahun.

c. Pendidikan Tinggi meliputi :

1. Opleiding school voor Inlandse Ambtenaren / OSVIA (Sekolah Pendidikan Pegawai Pribumi)

2. School tot Opleding van Indische Artsen / STOVIA (Sekolah Kedokteran Jawa)

3. Rechts Hooge School / RHS (Sekolah Hakim Tinggi

4. Technishe Hooge School (Sekoalh Teknik Tinggi)

Pendidikan barat tersebut pada kenyataannya hanya dapat dinikmati sebagian kecil anak Indonesia yang memiliki intelektual, dan keuangan yang cukkup. Hal ini karena Belanda tetap berusaha mempersempit kesempatan belajar bagi anak Indonesia dan membuat pendidikan rakyat Indonesia serendah dan selambat mungkin. Meski demikian, politik etis di bidang pendidikan ini nantinya akan melahirkan kaum cerdik pandai yang akan membahayakan kedudukan Belanda sendiri di Indonesia.

Nasionalisme Indonesia tumbuh pertama kali di kalangan terpelajar. Latar belakang kesadaran akan nasionalisme Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Kalangan terpelajar dari berbagai daerah menyadari nasib yang sama sebagai jajahan Belanda

2. Nasib sama itu lebih lanjut memunculkan tekad untuk merdeka sebagai satu bangsa.

Menyadari bahwa bangsa Indonesia memiliki nasib dan tujuan yang sama maka memunculkan kesadaran kebangsaan dan lahirlah pergerakan nasional dalam mewujudkan Indonesia merdeka.

Upaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia menghadapi kendala amat berat. Hal ini disebabkan oleh hal berikut :

1. Politik kolonialisme Belanda sudah tertanam lama di tengah kehidupan masyarakat Indonesia

2. Tidak semua masyarakat Indonesia mau merdeka, terutama yang merasakan keuntungan dari pemerintah kolonial.

3. Sebagian besar masyarakat belum menyadari sebagai suatu bangsa mereka masih terikat pada daerah masing – masing.

Kebijaksanaan Politik Etis yang diperkenalkan pemerintah Belanda pada tahun 1901, mendorong terbentuknya kelompok sosial baru yaitu kelompok terpelajar atau golongan elite modern yang disebut priyayi. Berakt pendidikan yang mereka terima, kaum terpelajar mempunyai dasar baru yaitu nasionalisme Indonesia. Golongan elite inilah yang menjadi agen dan pelopor peruahan. Perjuangan mereka menggunakan cara – cara baru yaitu pembuatan organisasi dan pers sebagai salah satu media komunikasi modern. Tokoh – tokoh elite modern bermunculan seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Sutomo, Ki Hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Ir. Soekarno. Mereka tergerak untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan dengan menumbuhkan jiwa nasionalisme di dada para pemuda Indonesia.

  1. D.     Pendidikan dan Kelestarian Pancasila

 

 

Pendidikan sangat penting demi kelestarian pancasila, melalui sarana pendidikan kita dapat lebih jauh mengetahui hakikat pancasila pada dasarnya. Pancasila pada hakekatnnya adalah sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar Negara, maka pancasila dianggap sakti hingga harus dilestarikan? Pancasila mempunyai fungsi dan kedudukan yang tetap, buat dan tidak berubah bagi Negara yang dibentuk atau fundamental sehingga pancasila mempunyai kedudukan yang istimewa dalam hidup kenegran dan hokum bangsa Indonesia. Pancasila adalah sebagai sumber dari segala sumber hokum atau sumber dari tertib hukum, sebagai penagtur hidup kemasyarakatan, mengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari kebenaran sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945.

maka disusunlah kemerdekaan bangsa itu dalam suatu undang-undang dasar Negara Indonesia yang dibentuk dalam suatu susunan Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat yaitu Pancasila. Oleh karena itu pancasila harus dilestarikan karena dipergunakan sebagai dasar Negara untuk mengatur penyelenggaraan Negara. Pancasila adalah ideologi yang terbuka, apakah arti keterbukaan ideologi pancasila itu. Apakah arti keterbukaan ideologi pancasila itu? Pancasila sebagai ideologi terbuka dalam kaitannya dengan system pemikiran merupakam hasil dari pemikiran terbuka (demokratis). Untuk mewujudkan nilai dasar yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan pembukaan UUD 1945 sebagai dasar Negara, pelaksanaanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan, ada serta dialog antara nilai dasar dan nilai praksis dimana dinamika perkembangan dan keterbukaan dari nilai dasar ini tergambar kelestariannya dan terbuka bagi inovasi baru yang positif sehingga memungkinkan nilai instrumental yaiu nilai yang terkandung dalam Batang Tubuh UUD 1945, dan bebrbagau ketetapan lembaga tertinggi Negara (MPR) yang tepat.

Namun dari kesemuanya itu yang sangat penting mengenai mengapa pancasila perlu dilestarikan :

a)   Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

b)   Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

  1. E.      Pendidikan dan Kesejahtraan Masyarakat

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam menghadapi krisis perekonomian yang berkepanjangan ini, peranan pendidikan untuk kesejahtraan masyarakat semakin nampak. Karena itulah pendidikan diarahkan untuk mendukung program pemulihan ekonomi, pemberdayaan ekonomi lemah dan rehabilitasi sosial masyarakat.

Menurut Fasli Jalal dan Dedy Supryadi (2001 : 108)  indikator keberhasilanya adalah menikatnya mutu keluaran pendidikan yang menjadi sumberdaya manusia yang produktif . meningkatnya peranan ekonomi dan sistem perekonomian nasional hal itu dapat meningkatkan perataan kesejahtraan masyarakat luas, berkembangnya kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosialnya sendiri  serta terjaganya persatua  dan kesatuan bangsa , toleransi dan kesetiakawanan sosial ditengah masyarakat.

Pendidikan dengan demikian diarahkan untuk meminimalisir desparitas antara kelompok masyarakat miskin dan kaya , pemerataan menjadi katakunci yang sangat penting dalam proses pembangunan di indonesia. melalui Pendidikan, manusia akan bisa mengembangkan diri dan kreativitas berpikirnya, guna membangun dan mengembangkan semua bidang yang pada akhirnya akan bisa meningkatkan kesejahteraan  masyarakat dan memajukan bangsa, sehingga bisa menikmati kehidupan yang maju dan sejahtera.

Soal

 

  1. Sebutkan dan jelaskan  beberapa pengertian masyarakat menurut para ahli?
  2.  Latar belakang kesadaran akan nasionalisme Indonesia  bagi rakyat indonesia yang dipelopori oleh pelajar indonesia ?
  3. Sebutkan mengapa pancasila sangat perlu dilestarikan bagi kita?

 

Jawaban soal

 

 

  1.  Stanley dan Shores mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok individu-individu yang terorganisasi serta berfikir tentatang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda. (Smith, Stanley, Shores, 1950, p. 5).

Znaniecki menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem yang meliputi unit biofisik para individu yang bertempat tinggal pada suatu daerah geografis tertentu selama periode waktu tertentu dari suatu generasi. Dalam sosiology suatu masyarakat dibentuk hanya dalam kesejajaran kedudukan yang diterapkan dalam suatu organisasi. (F Znaniecki, 1950, p. 145),

Liton (1982, p.14) yang menyatakan bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tartentu

  1. 1. Kalangan terpelajar dari berbagai daerah menyadari nasib yang sama sebagai jajahan Belanda
  2. Nasib sama itu lebih lanjut memunculkan tekad untuk merdeka sebagai satu bangsa.
  3. Pancasila sangat perlu dilestarikan karena berbagai faktor, yaitu :

a)    Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

b)    Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_15.html

http://www.berita2.com/daerah/138-yogyakarta/9078-agama-dan-pendidikan-dapat-meningkatkan-kesejahteraan-masyarakat.html

http://semangatbelajar.com/pendidikan-berbasis-masyarakat-untuk-pembangunan-masyarakat/

http://kulimijit.blogspot.com/2009/11/kesadaran-nasional-identitas-dan.html

http://rechytanita.blogspot.com/2009/10/kelestarian-pancasila-dan-ideologi.html

http://maixelsh.wordpress.com/2010/10/28/kelestarian-pancasila/

About Fani Diamanti

a Christian | Jun's true love forever and after|a Scholar of Education | Love Physics | Love One Piece
This entry was posted in Paradise of Physics. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s